Wednesday, March 25, 2020

Cara Mencari Jurnal Internasional dan Nasional

Halo temans, ini sebenarnya tulisan dari grup whatsapp, tapi daripada hilang begitu saja, saya jadikan tulisan di blog ini. Paling tidak menjadi catatan pribadi saya. Syukur2 kalo ini bermanfaat bagi teman2 lainnya.

Tulisannya adalah Cara untuk mencari Jurnal Nasional dan Internasional. Berikut ini ada beberapa item dan link untuk mendapatkannya. Silahkan disimak..

  1. Untuk mencari jurnal terindeks Scopus
    https://www.scopus.com/sources
  2. Untuk melihat jurnal tersebut masuk kategori Q berapa?
    https://www.scimagojr.com
  3. Untuk mencari jurnal open access, silahkan cari di :
    https://doaj.org
  4. Master Journals list yang ada di Clarivate dapat dilihat di:
    http://mjl.clarivate.com
  5. Untuk mencari jurnal terakreditasi nasional, silahkan lihat di:
    http://sinta.ristekdikti.go.id/journals
  6. Untuk mencari artikel secara gratis (mirip scopus tapi gratis tapi lebih canggih dibanding GS), silahkan menggunakan:
    https://app.dimensions.ai/discover/publication
  7. Untuk memvisualisasi kata kunci pencarian ilmiah, silahkan menggunakan:
    https://openknowledgemaps.org

Demikian, semoga catatan ini bermanfaat untuk yang nyasar membacanya.
Gambar oleh lil_foot_ dari Pixabay

Sunday, March 22, 2020

Cara Mencari Jurnal Ilmiah Terindeks SINTA

Mungkin ada yang jarang mengetahui tentang SINTA, apa sih SINTA? Berikut ini kutipan dari laman resminya:
Sinta (Science and Technology Index), delivering acces to citations and expertise in Indonesia. Web-based research information system offering fast access, easy and comprehensive to measure the performance of researchers, institutions and journals in Indonesia. Sinta provide benchmarks and analysis, identification of research strength of each institution to develop collaborative partnerships, to analyze the trend of research and expert directories.

Pada Intinya, SINTA merupakan pengindeks Jurnal yang disediakan oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. SINTA sangat akrab sekali dengan mahasiswa dan dosen, karena bisa menjadi rujukan dalam mencari Jurnal terkait penelitian yang akan dilakukan.

Dalam tulisan ini, saya akan membagikan cara untuk mencari Jurnal yang terindeks di SINTA.
Caranya adalah sebagai berikut:
  1. Buka Link: http://sinta2.ristekdikti.go.id/journals
    Halaman Jurnal pada SINTA

  2. Pilih Tombol Advance Search yang ada di kiri atas, dan pilih Subjek yang akan dicari
    Advance Search dengan Menentukan Subjek Jurnal
  3. Jika selesai, klik tombol Search
  4. Maka akan keluar hasil Jurnal sesuai dengan subjek yang kita inginkan beserta informasi Indeks Sintanya, apakah itu SINTA 1 sampai SINTA 6.
    Hasil Pencarian dan Informasi yang dapat dilihat
Perlu diketahui juga, selain terlihat Indeks SINTA, akan terlihat juga Impact Factor, Jumlah Sitasi dan lain sebagainya. Silahkan anda eksplorasi sendiri.

Demikian, caranya memang sederhana tapi semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Situs Belajar Cyber Security (Keamanan Siber)

Anda yang memiliki keinginan belajar di dunia IT mungkin pernah memiliki rasa penasaran untuk tahu mengenai keamanan dalam dunia IT. Seringkali disebut Cyber Security (keamana siber).

Gambar oleh Stefan Coders dari Pixabay
Kadang untuk mengikuti kursus megenai topik Cyber Security harus mengeluarkan biaya yang mahal. Jika ada yang murah ataupun gratis, kadang kita malah curiga kalau kualitas dan bobotnya kurang layak. Tapi sebenarnya di zaman sekarang, kata gratis tidak berarti tidak bagus, bahkan ada kursus gratis yang punya kualitas lebih dibandingkan kursus berbayar.

Berikut ini beberapa link yang bisa digunakan untuk belajar Cyber Security secara gratis, tapi bukan yang abal-abal.
  1. https://www.cybrary.it/
    Cybrary is a growing community where people, companies and training come together to give everyone the ability to collaborate in an open source way that is revolutionizing the cyber security educational experience.
  2. https://ics-cert-training.inl.gov/learn
    The Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) is the Nation’s risk advisor, working with partners to defend against today’s threats and collaborating to build a more secure and resilient infrastructure for the future.

    CISA provides extensive cybersecurity and infrastructure security knowledge and practices to its stakeholders, shares that knowledge to enable better risk management, and puts it into practice to protect the Nation’s essential resources.
  3. http://opensecuritytraining.info/Training.html
    In the spirit of OpenCourseWare and the Khan Academy, OpenSecurityTraining.info is dedicated to sharing training material for computer security classes, on any topic, that are at least one day long.
  4. https://cybersecuritycourse.co/
    Security was created by the 2011 & 2012 Defcon World Champions in hacking to protect Internet users against advanced cyber criminal attacks.
    The Heimdal Security team shields 300.000+ people around the world by patching 12 million vulnerabilities, blocking over 15 million malicious websites and delivering world class intelligence on IT security to every single user.
    Get to know us on HeimdalSecurity.com.
  5. http://www.cyberaces.org/
    SANS Cyber Aces Online is an online course that teaches the core concepts needed to assess, and protect information security systems. The course was developed by SANS, the most trusted and the largest source for information security training and security certification in the world. The course is an engaging, self-paced, easy to use combination of tutorial and videos. It’s available as open courseware so you can take it anytime. SANS is donating the course from their library of professional development curriculum. And it’s free

Itu beberapa sumber belajar/kursus yang dapat diikuti dengan gratis. Semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan.

Sunday, March 15, 2020

Tantangan dan Peluang Wirausaha Milenial Di Era Revolusi Industri 4.0

Hari ini (14 Maret 2020) Universitas Dehasen Bengkulu melalui Fakultas Ekonomi mengadakan sebuah Seminar Nasional mengenai Kewirausahaan. Seminar yang dilaksanakan berjudul "Tantangan dan Peluang Wirausaha Milenial Di Era Revolusi Industri 4.0".

Seminar tersebut dihadiri oleh Dosen, Mahasiswa, Tamu Undangan dan Umum. Dimulai pukul 09.00 dan hadir juga dalam kesempatan tersebut Bapak Bando Amien C. Kader, M.M., mewakili Yayasan Universitas Dehasen Bengkulu.

Pembiacara atau narasumber dalam seminar Keriwausahaan tersebut adalah Bapak Stevanus Wijiantoro, M.H. Narasumber sendiri merupakan seorang praktisi di dunia marketing yang telah berpengalaman lebih dari 15 tahun dengan jaringan bisnis yang luas. Beliau juga merupakan seorang advokat dan konsultan hukum, dan juga sebagai founder  Sekolah SMA Selamat Pagi Indonesia di Batu, Malang - Jawa Timur.

Seminar dibuka dengan Sambutan oleh Bapak Bando Amin, dalam sambutannya beliau memberikan motivasi untuk para mahasiswa agar nanti tidak hanya lulus sebagai Sarjana, tetapi juga sebagai seorang yang sudah memiliki usaha.

BPH Yayasan, Bapak Bando Amien C. Kader memberikan sambutan dan motivasi
Sambutan diakhiri dengan pembukaan secara resmi Seminar diiringi dengan tepuk tangan para peserta yang hadir.

Selanjutnya memasuki kegiatan inti, yaitu seminar yang dipandu oleh moderator Bapak Teguh yang merupakan ketua panitia pada seminar tersebut.

Dalam penyampaiannya, Bapak Stevanus membawakan seminar dengan santai dan ceria. Menambah semangat para peserta dalam memperoleh ilmu. Dikatakan bahwa sebenarnya peluang usaha terbuka dengan sangat lebar, namun beberapa yang menjadi kendala seperti modal dan lain sebagainya itu merupakan sebuah tantangan tersendiri dan harus dihadapi. Bahkan dalam kesempatan tersebut disampaikan beberapa peluang usaha yang bahkan diberikan modalnya, diberikan pendampingan dan asalkan mengikuti cara kerja dari sistemnya, maka dijamin akan berhasil dan mendapatkan keuntungan yang banyak. Teknik bisnis yang dilakukan adalah Network Marketing atau dalam keseharian orang kita menyebutnya MLM.

Bicara tentang MLM, mungkin teman-teman yang membaca ini memiliki kenangan unik tersendiri. Ada yang manis, asem, asin, bahkan pahit. Kapan-kapan kita cerita ya.

Panitia Fakultas Ekonomi berfoto bersama Nara Sumber. Foto diambil dari Status Whatsapp Ibu Dosen Meiffa.

Sebenarnya masih banyak yang mau ditulis, tapi nyamuk sudah berbaris, jadi sekian dulu ya. Tapi sebelum itu, biarkan kami sedikit eksis.

Trio Kwek kwek
Oke, sekian gais.. Terimakasih sudah mampir.

Sunday, January 05, 2020

Tutorial Penyusunan LED IAPS 4.0

Dokumen berikut ini adalah karya Bapak Lukito Edi Nugroho.

Kata Pengantar:
Instrumen baru akreditasi program studi dan perguruan tinggi (IAPS 4.0 dan IAPT 3.0) telah resmi digunakan. Bila dibandingkan dengan instrumen lama, ada banyak perbedaan yang cukup mendasar.
Instrumen baru dirancang dan digunakan dengan paradigma yang berbeda dengan paradigma instrumen lama, sehingga cara penyusunannyapun memerlukan pendekatan yang berbeda. Dari interaksi penulis dengan beberapa pengelola prodi, terlihat masih adanya kebingungan tentang bagaimana menyiapkan berkas instrumen baru dengan baik, khususnya Laporan Evaluasi Diri (LED). Berbeda dengan instrumen lama, LED pada instrumen baru justru merupakan bagian utama, sehingga hasil akreditasi akan sangat bergantung pada seberapa bagus kualitas LED yang disusun.

Saat ini BAN-PT, LLDikti, asosiasi keilmuan, dan juga banyak perguruan tinggi sudah berinisiatif menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan penyusunan LED, tetapi sepanjang pengamatan penulis, sosialisasi dan pelatihan ini belum efektif karena belum disertai dengan hands-on yang ‘memaksa’ peserta untuk benar-benar merasakan perubahan paradigma penyusunan LED dalam instrumen baru. Saat tulisan ini dibuat, memang belum ada contoh-contoh kasus yang bisa diangkat untuk pembelajaran. Kondisi ‘buta situasi’ ini yang menyebabkan banyak pengelola prodi gamang dalam menyusun LEDnya. Kondisi ini pulalah yang menjadi alasan penulis memberanikan diri membuat tulisan tutorial tentang penyusunan LED instrumen baru.

Penulis bukan anggota tim penyusun instrumen baru, dan sama seperti yang lain, penulis juga belum memiliki pengalaman nyata menyusun LED. Modal yang dimiliki hanyalah pemahaman yang diperoleh dari pelatihan IAPS 4.0 dan pengalaman sebagai penyusun borang (lama), asesor, dan pejabat struktural di jurusan dan fakultas. Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa isi dari tutorial ini memiliki kebenaran yang mutlak, kemungkinan terjadi kesalahan masih cukup besar, tetapi tutorial ini diharapkan menjadi sebuah “live document” yang selalu akan diperbarui, direvisi, dan dilengkapi seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman tentang instrumen baru.

Berbeda dengan sosialisasi instrumen baru pada umumnya, tulisan ini mencoba membangun paradigma instrumen baru berdasarkan paradigma lama (yang sudah dikuasai oleh prodi) dan disertai dengan penjelasan tambahan dan contoh. Tentu saja semua ini versi penulis, yang seperti sudah disampaikan sebelumnya, bisa benar tapi bisa juga kurang tepat.

Tutorial ini disusun dalam 2 track yang ditunjukkan dengan dua kolom. Kolom kiri menunjukkan track pedoman penyusunan LED. Isinya berasal dari materi-materi sosialisasi tentang IAPS 4.0, dan terutama dari Lampiran 3 Peraturan BAN-PT no 5/2019 (Panduan Penyusunan Laporan Evaluasi Diri IAPS) yang dilengkapi dengan penjelasan seperlunya (versi penulis) di bagian-bagian tertentu. Kolom kanan berisi tips dan contoh, yang sedapat mungkin disajikan dari perspektif instrumen akreditasi lama. Kolom kanan ini berfungsi sebagai “jembatan” yang menghubungkan paradigma instrumen lama ke paradigma insrumen baru. Dengan dua track ini, diharapkan pembaca dapat memahami apa yang diminta dalam instrumen baru berdasarkan pemahaman terhadap instrumen lama.

Sebelum mulai membaca dan memanfaatkan tutorial ini, mohon memahami dulu disclaimer berikut ini:
Disclaimer
Apapun yang tertulis dalam naskah ini murni adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan pernyataan dari BAN-PT kecuali bila disebutkan secara eksplisit. Penulis tidak bertanggung jawab atas dampak apapun yang muncul sebagai akibat dari diterapkannya sebagian atau seluruh isi tulisan ini.
Koreksi, saran, dan usulan perbaikan bisa disampaikan via email: lukito@ugm.ac.id



Atau melalui link berikut ini: https://drive.google.com/file/d/1xDV9k64pTst776jwMugeDOPHDEurE6Q5/view


RISET MAHASISWA S1 DI JEPANG

Tulisan ini diambil di grup facebook dengan link: http://bit.ly/mhsidnvsjpn
Pada saat mahasiswa naik ke tahun ke 4, atau B4 dibaca bi-yon (Bachelor 4) mahasiswa _science and Engineering_ masuk lab. Mereka memilih Lab yang bertebaran di Universitas sesuai bidang ilmu yang diminati. Setiap Lab dipimpin oleh 1 professor dibantu associated maupun assistance professor.
Mereka masuk pada awal semester 7 bulan Maret.

Ketika sudah masuk, di hari pertama mereka _diberi judul_ riset yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dikerjakan di Lab itu. Jadi tidak ditunggu mahasiswa mencari judul dan penuh kesadaran datang pada professor. Tidak. Tapi diberi judul oleh professor.

Setelah itu mereka kerja selama setahun dengan melaporkan progress mereka secara periodik kepada professor baik secara individual (konsultasi) maupun presentasi di depan semua anggota Lab.
Presentasi dilakukan seminggu sekali secara sederhana, tanpa PowerPoint, cukup selembar kertas yang berisi progress penelitian mereka. Tetapi tidak setiap mahasiswa harus presentasi per minggu. Kalau tidak salah mereka wajib presentasi dalam setahun itu sekitar 10-12 kali saja.

Setahun kemudian, ketika dirasa sudah siap dan melewati bimbingan yang cukup intensif dengan supervisor dan supervisor menyatakan bahwa ybs sudah selesai dalam tugasnya, mereka melakukan latihan presentasi akhir secara intens. Karena presentasi akhir nanti waktunya sangat terbatas.

Presentasi akhir dilakukan di Universitas secara bersamaan di hadapan semua professor dari semua Lab yang berkaitan. Setiap mahasiswa B4 diberi waktu 7 menit presentasi dan 3 menit tanggapan dari audience. Tanggapan ini biasanya berupa saran agar riset ke depan lebih baik, tanpa bermaksud menguji Karena mereka percaya rekan sejawat di Lab lain telah melakukan tugasnya dengan baik.

Sarjana baru telah lulus

Point yang bisa diambil:
1. Mahasiswa S1 itu "diberi judul" bukan ditunggu kesadaran.
2. Proses yang berkesinambungan mulai dari pemberian judul sampai dengan presentasi akhir.
3. Ujian bukan ladang pembantaian yang mengerikan bagi mahasiswa tetapi sebagai ladang diskusi untuk riset ke depan.

Catatan:
Ini terjadi di Perguruan tinggi teknologi. Kalau sosial humaniora tidak tahu.
Komentar Ibu Wahidah Mahanani:
Beda di jepang, beda di Indonesia.
Kalau di sana tidak hanya sekedar percaya bahwa anggota lab sudah melakukan tugasnya dengan baik, tapi percaya juga bahwa sang mahasiswa serius betul mengerjakan risetnya, belajar betul, betul2 membaca jurnal dengan akses yg besar, dan memang rajin.

Sepertinya dosen di sini "membantai" berakar dari ketidakyakinan bahwa mahasiswa betul2 membaca jurnal, betul2 membaca buku, atau jurnal, atau sumber saintifik lain, dst.

Pengalaman pribadi, mahasiswa saya beri jurnal sebagai bahan bacaan untuk didiskusikan di pertemuan berikutnya, tak sampai 20% yg betul2 menelaah jurnal tsb.

Meski tentu tak semuanya "pemalas", tapi dari sononya memang beda di sini beda di sana.
Tentu di sini semua pihak perlu memperbaiki diri, ya dosennya, ya mahasiswa.

Perubahan atau intervensinya tidak bisa ujug2 di ujung alias di hilir. Tapi harus dari hulu, dari metode belajar ketika kanak2.

Lalu apakah sama sekali tidak ada yg bisa kita kerjakan di tingkat universitas. Ada, tapi targetnya tak perlu muluk2 harus sama persis dengan di Jepang.
Kalau yg sudah saya lakukan di kelas adalah membentuk kelompok2 diskusi untuk membahas upaya menyelesaikan persoalan pangan (kami jurusan teknologi pangan), berusaha menumbuhkan kebiasaan bergaul dengan jurnal dengan setiap matakuliah di beberapa pertemuan membahas jurnal, dan berusaha agar kelas bisa menarik dan memantik kekritisan dengan berbagai pertanyaan yg bisa didiskusikan di kelas.

Kalau terpaksanya pas presentasi atau ujian harus "membantai", ahh.. saya tak suka istilah ini, ada konotasi buruk berlatar kebencian di dalamnya, mahasiswa tetap diberitahu cara atau alternatif menyelesaikan masalah di risetnya.
Coba kamu cari ini, coba kamu gunakan metode ini, dst, lalu mari sama2 kita lihat hasilnya.
Komentar dari Pak Jecko:
Terutama utk S2 dan S3 indikatornya sederhana, utk S2 syarat di Jepang harus mengikuti 2 conference international. Kalau S3, 3 conference, dan 2 jurnal international terindex, bisa web of science atau scopus. Kalau paper mahasiswanya sudah tembus di sebuah jurnal yang kredibel, misalnya di jurnal scopus Q1, itu artinya mbimbingnya berhasil. Banyak kasus di lab. saya, bahkan anak master pun jurnalnya masuk jurnal Q1, dan selama master bisa tembus 4 jurnal internasional. Dan di Jepang semua biaya riset, conference dan publkasi dibiayai kampus. Makanya mahasiswa akan berlomba-lomba utk riset, dan buat paper conference dan daftar ke sana-sini, karena itu artinya jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri gratis. Kalau di Indonesia menerapkan seperti itu, pasti maju. 
https://marketeers.com/investasi-di-bidang-riset-dukung-pertumbuhan-ekonomi/