Ad Placement

Sunday, January 05, 2020

Tutorial Penyusunan LED IAPS 4.0

Dokumen berikut ini adalah karya Bapak Lukito Edi Nugroho.

Kata Pengantar:
Instrumen baru akreditasi program studi dan perguruan tinggi (IAPS 4.0 dan IAPT 3.0) telah resmi digunakan. Bila dibandingkan dengan instrumen lama, ada banyak perbedaan yang cukup mendasar.
Instrumen baru dirancang dan digunakan dengan paradigma yang berbeda dengan paradigma instrumen lama, sehingga cara penyusunannyapun memerlukan pendekatan yang berbeda. Dari interaksi penulis dengan beberapa pengelola prodi, terlihat masih adanya kebingungan tentang bagaimana menyiapkan berkas instrumen baru dengan baik, khususnya Laporan Evaluasi Diri (LED). Berbeda dengan instrumen lama, LED pada instrumen baru justru merupakan bagian utama, sehingga hasil akreditasi akan sangat bergantung pada seberapa bagus kualitas LED yang disusun.

Saat ini BAN-PT, LLDikti, asosiasi keilmuan, dan juga banyak perguruan tinggi sudah berinisiatif menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan penyusunan LED, tetapi sepanjang pengamatan penulis, sosialisasi dan pelatihan ini belum efektif karena belum disertai dengan hands-on yang ‘memaksa’ peserta untuk benar-benar merasakan perubahan paradigma penyusunan LED dalam instrumen baru. Saat tulisan ini dibuat, memang belum ada contoh-contoh kasus yang bisa diangkat untuk pembelajaran. Kondisi ‘buta situasi’ ini yang menyebabkan banyak pengelola prodi gamang dalam menyusun LEDnya. Kondisi ini pulalah yang menjadi alasan penulis memberanikan diri membuat tulisan tutorial tentang penyusunan LED instrumen baru.

Penulis bukan anggota tim penyusun instrumen baru, dan sama seperti yang lain, penulis juga belum memiliki pengalaman nyata menyusun LED. Modal yang dimiliki hanyalah pemahaman yang diperoleh dari pelatihan IAPS 4.0 dan pengalaman sebagai penyusun borang (lama), asesor, dan pejabat struktural di jurusan dan fakultas. Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa isi dari tutorial ini memiliki kebenaran yang mutlak, kemungkinan terjadi kesalahan masih cukup besar, tetapi tutorial ini diharapkan menjadi sebuah “live document” yang selalu akan diperbarui, direvisi, dan dilengkapi seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman tentang instrumen baru.

Berbeda dengan sosialisasi instrumen baru pada umumnya, tulisan ini mencoba membangun paradigma instrumen baru berdasarkan paradigma lama (yang sudah dikuasai oleh prodi) dan disertai dengan penjelasan tambahan dan contoh. Tentu saja semua ini versi penulis, yang seperti sudah disampaikan sebelumnya, bisa benar tapi bisa juga kurang tepat.

Tutorial ini disusun dalam 2 track yang ditunjukkan dengan dua kolom. Kolom kiri menunjukkan track pedoman penyusunan LED. Isinya berasal dari materi-materi sosialisasi tentang IAPS 4.0, dan terutama dari Lampiran 3 Peraturan BAN-PT no 5/2019 (Panduan Penyusunan Laporan Evaluasi Diri IAPS) yang dilengkapi dengan penjelasan seperlunya (versi penulis) di bagian-bagian tertentu. Kolom kanan berisi tips dan contoh, yang sedapat mungkin disajikan dari perspektif instrumen akreditasi lama. Kolom kanan ini berfungsi sebagai “jembatan” yang menghubungkan paradigma instrumen lama ke paradigma insrumen baru. Dengan dua track ini, diharapkan pembaca dapat memahami apa yang diminta dalam instrumen baru berdasarkan pemahaman terhadap instrumen lama.

Sebelum mulai membaca dan memanfaatkan tutorial ini, mohon memahami dulu disclaimer berikut ini:
Disclaimer
Apapun yang tertulis dalam naskah ini murni adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan pernyataan dari BAN-PT kecuali bila disebutkan secara eksplisit. Penulis tidak bertanggung jawab atas dampak apapun yang muncul sebagai akibat dari diterapkannya sebagian atau seluruh isi tulisan ini.
Koreksi, saran, dan usulan perbaikan bisa disampaikan via email: lukito@ugm.ac.id



Atau melalui link berikut ini: https://drive.google.com/file/d/1xDV9k64pTst776jwMugeDOPHDEurE6Q5/view


RISET MAHASISWA S1 DI JEPANG

Tulisan ini diambil di grup facebook dengan link: http://bit.ly/mhsidnvsjpn
Pada saat mahasiswa naik ke tahun ke 4, atau B4 dibaca bi-yon (Bachelor 4) mahasiswa _science and Engineering_ masuk lab. Mereka memilih Lab yang bertebaran di Universitas sesuai bidang ilmu yang diminati. Setiap Lab dipimpin oleh 1 professor dibantu associated maupun assistance professor.
Mereka masuk pada awal semester 7 bulan Maret.

Ketika sudah masuk, di hari pertama mereka _diberi judul_ riset yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dikerjakan di Lab itu. Jadi tidak ditunggu mahasiswa mencari judul dan penuh kesadaran datang pada professor. Tidak. Tapi diberi judul oleh professor.

Setelah itu mereka kerja selama setahun dengan melaporkan progress mereka secara periodik kepada professor baik secara individual (konsultasi) maupun presentasi di depan semua anggota Lab.
Presentasi dilakukan seminggu sekali secara sederhana, tanpa PowerPoint, cukup selembar kertas yang berisi progress penelitian mereka. Tetapi tidak setiap mahasiswa harus presentasi per minggu. Kalau tidak salah mereka wajib presentasi dalam setahun itu sekitar 10-12 kali saja.

Setahun kemudian, ketika dirasa sudah siap dan melewati bimbingan yang cukup intensif dengan supervisor dan supervisor menyatakan bahwa ybs sudah selesai dalam tugasnya, mereka melakukan latihan presentasi akhir secara intens. Karena presentasi akhir nanti waktunya sangat terbatas.

Presentasi akhir dilakukan di Universitas secara bersamaan di hadapan semua professor dari semua Lab yang berkaitan. Setiap mahasiswa B4 diberi waktu 7 menit presentasi dan 3 menit tanggapan dari audience. Tanggapan ini biasanya berupa saran agar riset ke depan lebih baik, tanpa bermaksud menguji Karena mereka percaya rekan sejawat di Lab lain telah melakukan tugasnya dengan baik.

Sarjana baru telah lulus

Point yang bisa diambil:
1. Mahasiswa S1 itu "diberi judul" bukan ditunggu kesadaran.
2. Proses yang berkesinambungan mulai dari pemberian judul sampai dengan presentasi akhir.
3. Ujian bukan ladang pembantaian yang mengerikan bagi mahasiswa tetapi sebagai ladang diskusi untuk riset ke depan.

Catatan:
Ini terjadi di Perguruan tinggi teknologi. Kalau sosial humaniora tidak tahu.
Komentar Ibu Wahidah Mahanani:
Beda di jepang, beda di Indonesia.
Kalau di sana tidak hanya sekedar percaya bahwa anggota lab sudah melakukan tugasnya dengan baik, tapi percaya juga bahwa sang mahasiswa serius betul mengerjakan risetnya, belajar betul, betul2 membaca jurnal dengan akses yg besar, dan memang rajin.

Sepertinya dosen di sini "membantai" berakar dari ketidakyakinan bahwa mahasiswa betul2 membaca jurnal, betul2 membaca buku, atau jurnal, atau sumber saintifik lain, dst.

Pengalaman pribadi, mahasiswa saya beri jurnal sebagai bahan bacaan untuk didiskusikan di pertemuan berikutnya, tak sampai 20% yg betul2 menelaah jurnal tsb.

Meski tentu tak semuanya "pemalas", tapi dari sononya memang beda di sini beda di sana.
Tentu di sini semua pihak perlu memperbaiki diri, ya dosennya, ya mahasiswa.

Perubahan atau intervensinya tidak bisa ujug2 di ujung alias di hilir. Tapi harus dari hulu, dari metode belajar ketika kanak2.

Lalu apakah sama sekali tidak ada yg bisa kita kerjakan di tingkat universitas. Ada, tapi targetnya tak perlu muluk2 harus sama persis dengan di Jepang.
Kalau yg sudah saya lakukan di kelas adalah membentuk kelompok2 diskusi untuk membahas upaya menyelesaikan persoalan pangan (kami jurusan teknologi pangan), berusaha menumbuhkan kebiasaan bergaul dengan jurnal dengan setiap matakuliah di beberapa pertemuan membahas jurnal, dan berusaha agar kelas bisa menarik dan memantik kekritisan dengan berbagai pertanyaan yg bisa didiskusikan di kelas.

Kalau terpaksanya pas presentasi atau ujian harus "membantai", ahh.. saya tak suka istilah ini, ada konotasi buruk berlatar kebencian di dalamnya, mahasiswa tetap diberitahu cara atau alternatif menyelesaikan masalah di risetnya.
Coba kamu cari ini, coba kamu gunakan metode ini, dst, lalu mari sama2 kita lihat hasilnya.
Komentar dari Pak Jecko:
Terutama utk S2 dan S3 indikatornya sederhana, utk S2 syarat di Jepang harus mengikuti 2 conference international. Kalau S3, 3 conference, dan 2 jurnal international terindex, bisa web of science atau scopus. Kalau paper mahasiswanya sudah tembus di sebuah jurnal yang kredibel, misalnya di jurnal scopus Q1, itu artinya mbimbingnya berhasil. Banyak kasus di lab. saya, bahkan anak master pun jurnalnya masuk jurnal Q1, dan selama master bisa tembus 4 jurnal internasional. Dan di Jepang semua biaya riset, conference dan publkasi dibiayai kampus. Makanya mahasiswa akan berlomba-lomba utk riset, dan buat paper conference dan daftar ke sana-sini, karena itu artinya jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri gratis. Kalau di Indonesia menerapkan seperti itu, pasti maju. 
https://marketeers.com/investasi-di-bidang-riset-dukung-pertumbuhan-ekonomi/

Sunday, December 15, 2019

Thursday, December 05, 2019

Seminar Mencari Pemimpin Provinsi Bengkulu

Pembicara 1: Prof. Dr. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr.
Gubernur Sulawesi Selatan

Berawal dari kecelakaan politik. Terpilih menjadi bupati 2 kali di Kabupaten Bantaeng.
Berhasil menurunkan tingkat kematian ibu melahirkan hingga 0%.

Closing statement: Indonesia ini tidak layak jadi negeri miskin.

Pembicara 2: Prof. Dr. Siti Zuhro, M. A.
Peneliti Senior LIPI

Pemimpin harus menunjukkan keberadaban. Pemimpin harus yang diinginkan rakyat, kalau ada pemimpin yang berambisi untuk memimpin harap dicermati.
Pemimpin harua jujur, punya integritas, punya empati.
Empati yang tinggi itu yg membedakan. Pemimpin rela mengorbankan untuk rakyat.

Pemimpin yang bisa dipercaya. Janjinya ditepati. Kalau tidak, itu pemimpin yang plin plan. Jangan dipilih lagi.


Pembicara 3: Chuanul Mar'iyah, Ph.D
Eks Kimisioner KPU
Belum ditulis, kemarin keasikan dengerin beliau berbicara. Keren pokoknya. Nanti disalin dari rekaman waktu di acara. Sabar ya. 


Pembicara 4: Akbar Ali
Direktur Kewaspadaan Nasional

Politik bisa mulia, bisa menjadi hitam. Sering dibilang politik lebih kejam daripada ibu tiri.
1. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri
2. Bertanggung Jawab kepada keluarga
3. Bertanggung jawab kepada pemilih
4. Bertanggung jawab kepada institusi

Pembicara 5: Sukoyo, S.H., M. H.
Direkrut Produk Hukum Daerah

Mengkaji peraturan daerah. Regulasi yang obesitas.
Ingarso aung tuladha
Ingmadya mangun karso
Tutwuri Handayani
Asta brata bali.
UU no 1 tahun 2015
UU no 8 tahun 2015
UU no 10 tahun 2016
Melaksanakan 32 urusan pemetaan daerah.

Pembicara 6: Brigjend Pol. Drs. Adnas, M.Si.
WaKapolda Sul Sel

Leader Member Exchange (LMX)
Pengelolaan Organisasi Tergantung Pada Kepemimpinan.
1. Kapabilitas dan keterampilan pemimpin
2. Panutan dalam organisasi
3. Gaya Kepemimpinan

Pemimpin yg baik:
Dirasakan kepemimpinannya. 

Tuesday, November 19, 2019

Adab Utang Piutang

Mari kita kembali mengingat pesan penting dalam Al-Quran dan Al-Hadits tentang perkara utang-piutang :


1. Jangan pernah tidak mencatat utang piutang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ... سورة البقرة 282

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya."
(QS Al-Baqarah : 282)

2. Jangan pernah berniat tidak melunasi utang.

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ ‏‏أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا . رواه ابن ماجة 2410

"Siapa saja yang berutang, sedang ia berniat tidak melunasi utangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang PENCURI." (HR Ibnu Majah ~ hasan shahih)

3. Punya rasa takut jika tidak bayar utang, karena alasan dosa yang tidak diampuni dan tidak masuk surga.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ ‏ "‏ يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ ‏"‏ ‏.‏ رواه مسلم 1886

"Semua dosa orang yang mati syahid diampuni KECUALI utang". (HR Muslim)

4. Jangan merasa tenang kalau masih punya utang.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ‏"‏ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ‏"‏ ‏.‏ رواه ابن ماجة 2414

"Barangsiapa mati dan masih berutang satu dinar atau dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR Ibnu Majah ~ shahih)

5. Jangan pernah menunda membayar utang.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ ‏ "‏ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ ‏"‏‏.‏ رواه البخاري 2287 ، مسلم 1564 ، النسائي 4688 ، ابو داود 3345 ، الترمذي 1308

"Menunda-nunda (bayar utang) bagi orang yang mampu (bayar) adalah kezaliman." (HR Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi)

6. Jangan pernah menunggu ditagih dulu baru membayar utang.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ‏"‏ أَعْطُوهُ فَإِنَّ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ أَحْسَنَهُمْ قَضَاءً ‏"‏‏.‏ رواه البخاري 2392 ، مسلم 1600 ، النسائي 4617 ، ابو داود 3346 ، الترمذي 1318

"Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pembayaran utang. (HR Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Jangan pernah mempersulit dan banyak alasan dalam pembayaran utang.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "‏ أَدْخَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ رَجُلاً كَانَ سَهْلاً مُشْتَرِيًا وَبَائِعًا وَقَاضِيًا وَمُقْتَضِيًا الْجَنَّةَ ‏"‏ ‏.‏ رواه ابن ماجة 2202 ، النسائي 4696

"Allah 'Azza wa jalla akan memasukkan ke dalam surga orang yang mudah ketika membeli, menjual, dan melunasi utang." (HR An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)

8. Jangan pernah meremehkan utang meskipun sedikit.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ‏ "‏ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ ‏"‏. رواه الترمذي 1078 ، ابن ماجة 2506 

"Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada utangnya sampai utangnya dibayarkan." (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

9. Jangan pernah berbohong kepada pihak yang memberi utang.

قَالَ ‏"‏ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ ‏"‏‏.‏ البخاري 2397 ، 833 ، مسلم 589 ، ابو داود 880 ، النسائي 5472 ، 5454

"Sesungguhnya, ketika seseorang berutang, maka bila berbicara ia akan dusta dan bila berjanji ia akan ingkar." (HR Bukhari dan Muslim)

10. Jangan pernah berjanji jika tidak mampu memenuhinya.

...وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا... سورة الإسراء 34

"... Dan penuhilah janji karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban .." (QS Al-Israa': 34)

11. Jangan pernah lupa membalas kebaikan orang yang telah memberi utang walaupun hanya dengan doakan kebaikan.

وَمَنْ آتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ ‏"‏ ‏.‏ رواه النسائي 2567 ، ابو داود 5109

"Barang siapa telah berbuat kebaikan kepadamu, balaslah kebaikannya itu.

 Jika engkau tidak menemukan apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdoalah untuknya sampai engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya." (HR An-Nasa'i dan Abu Daud)

SEMOGA BERMANFAAT

https://maucash.id/hindari-kebiasaan-ini-agar-hutang-tidak-semakin-bertumpuk/

Journal of Southwest Jiaotong University

Bapak ibu yang ada didalam grup ini, saya share sesuatu agar kita tidak kena tipu sama sekali dan mohon ini di share ke semua kolega dan ini berdasarkan analisa saya sendiri agar tidak banyak author dari +62 kena tipu. - Dr. Robbi Rahim.

Journal of Southwest Jiaotong University ini merupakan jurnal universitas dari cina, dan in tertutup untuk umum.

http://jsju.org/index.php/journal/index -> website ini merupakan hijacked journal yang tidak dapat dipercaya sama sekali dan sangat banyak author dari +62 publish disini tanpa tau apa" dan pasti sudah sangat banyak nanya kenapa tidak terindeks sama sekali artikelnya.

sebagai contohnya adalah volume 54 ISSUE 3 dengan alamat URL berikut: http://jsju.org/index.php/journal/issue/view/43.

Terbit sebanyak 30 artikel dengan dominan author dari Indonesia dan Malaysia, tapi paper yang terbit disini berbeda dengan artikel yang sudah terindeks di database scopus.
Sumber: Grup WA Dosen Ilmu Komputer.

Thursday, March 07, 2019